Ilustrasi Tungku Rahasiamu (doc. Fery Jatmiko)
TUNGKU RAHASIAMU
Oleh : Fery Jatmiko
Siapakah yang meraung dalam gelap, siapakah yang menyipta petir dan hujan dalam kehidupan?
Siapakah yang membuat jamu dalam pahitnya daun mimba?
Mula-mula ia menyipta ranting dan duri dari pohon rapuh yang tak sanggup berdiri.
Kemudian, gemuruh petir mengundang, air-air langit turun berlarian ikut berbaris mengantri menunggu giliran.
Mengucap salam bagi pohon kering yang tabah menjalani puasa zaman.
Seperti ulat bulu menyulap diri
Tumbuh di bahu kanan dan kiri aneka sayap indah nan asri
Pohon itu tumbuh tegak menantang bagai Alif menyapu Sinai
Ia menyipta bunga-bunga dalam suluk muara hujan
Hingga malam menghadirkan bintang setelah tanah basah seharian.
Sinar menyingkap jubah kabut malam membuka jendela diri
Menyuruh bibir-bibir menari dalam dzikir abadi
Cahaya indah menelusup masuk dicelah jendela bagi siapa yang ingin menghamparkannya.
Ooo...! Kau yang menyalakan api dalam obor tungku namrud
Masih membekas bagaimana dada-dada terbuka dalam seberkas nanah
Namun Kuasa cinta tak tahan menjadi sejadah
Api tak kuasa menahan tangis kemudian rukuk dan sujud diatas sulaman langit
Panas itu menyulam keindah menjadi semak dan mawar
Bibir mereka kembali tersenyum, kesadaran mereka hadir bersama kesejukan salju yang menyentuh.
Kasih, ku lepas kepalaku dalam sungai mutiaramu
Kusapuh semua hingga menjadi hening di bening air
Semoga pelangi indah akan singgah dan para bidadari akan meminumnya.
Sebagai ranting yang berdiri menjadi Alif
Nyalakan api itu hingga aku terbakar habis, masuk kedalam tungku rahasiamu.
Gayam, 20 Februari 2026

Komentar
Posting Komentar