Ilustrasi Di Bawah Gardu Harapan Pulau Salidi (dok. Abu Hasna)
DI BAWAH GARDU HARAPAN
Oleh : Feri Jatmiko
Harapan demi harapan tumbuh di langit Pulau Salidi, namun harapan itu kerap patah sebelum sempat menjelma. Di laut, alat transportasi ibarat ombak yang menjadi soal; di darat, gelap menjadi kebiasaan. Segala problematika menyatu, menjelma tebing tinggi yang curam dan menjadi tempat manusia belajar pasrah sebelum sempat melawan.
Malam itu di pulau Salidi selalu datang dengan cara yang sama: gelap. Pemadaman listrik bukan lagi peristiwa, melainkan tradisi. Di bawah cahaya damar dan lilin, warga berkumpul, menyeruput kopi, membicarakan nasib yang seolah tak pernah berubah.
“Salah satu mesin PLN mati lagi katanya,” ujar seorang lelaki paruh baya. “Kita sudah mengeluh sejak dulu, tapi tetap saja begini.”
Di rumah bambu yang lain, di bawah nyala dhamar talpek, suara-suara serupa terdengar. Mereka membicarakan kapal feri yang kian uzur, mesin yang sering mogok, dan badan kapal yang lapuk dimakan usia.
“Sekarang musim angin barat,” kata seorang pemuda. “Kalau kapal begini terus, bagaimana nasib kita? Kenapa pulau ini selalu dimarginalkan ya?” katanya.
Angin laut menusuk tulang. Bintang-bintang jauh seperti saksi yang lelah. Di teras bambu, keluarga-keluarga duduk berdekatan, mencari kehangatan pada satu sama lain.
Ustadz Syams hadir di tengah mereka, tasbih berputar di jemarinya. Wajahnya tenang, suaranya teduh, seperti ingin menenangkan dunia yang gaduh.
“Jangan terlalu banyak mengeluh,” katanya pelan. “Dibanding masa kakek buyut kita, hidup di pulau ini dihari ini sudah jauh lebih baik. Semua ini kehendak Tuhan. Kita harus bersyukur.”
Edi mendengarkan. Di kepalanya, ribuan pikiran berdesakan. Ada yang ingin keluar, tapi ditahan. Ia merasa ada sesuatu yang keliru dalam cara orang-orang memahami nasib. Jika pasrah dijadikan prinsip, maka peradaban hanya akan berjalan di tempat.
Asniwan, tokoh pemuda yang baru pulang dari pondok, ikut bersuara. “Yang bisa kita lakukan hanya berdoa. Jangan ikut-ikutan teriak. Itu justru membuat kita blunder karena ketidaktahuan.”
Edi mengangkat wajahnya. Tatapannya pelan, tapi pasti.
“Maaf, Ustadz, dan kawan-kawan semua,” katanya. “Menurut saya, manusia bukan hanya makhluk yang bisa bersyukur, tapi juga makhluk yang harus bertanggung jawab. Kita wajib berpikir, bersuara, dan bergerak semampu kita. Leluhur kita berjuang agar kita tidak hidup seperti mereka dulu. Kalau kita hanya diam, bukankah itu berarti kita mengkhianati perjuangan mereka?”
Suasana mendadak berubah.
“Kamu tidak usah mengajari kami!” bentak Aryo, jari telunjuknya hampir menyentuh wajah Edi. “Kami sudah lebih lama hidup di pulau ini!”
Asniwan ikut meninggi. “Kamu bicara seolah-olah paling tahu! Itu tidak sopan!”
Edi terdiam sejenak. Wajahnya tetap tenang.
“Saya tidak bermaksud menggurui,” katanya. “Dalam diskusi, perbedaan pendapat justru memperkaya pikiran. Mengapa kita takut pada perbedaan, tapi tidak takut pada masalah yang nyata?”
“Cukup!” potong Ustadz Syams. Suaranya kini tak lagi teduh. “Kamu terlalu banyak bicara. Kamu seakan-akan paling tahu. Itu sombong.”
“Maaf, Ustadz, saya tidak bermaksud . . .”
“Cukup!” Ustadz Syams menggebrak tikar. “Bubar! Pulang semua!”
Gardu tempat warga dan pemuda yang biasanya berkumpul kini kembali sunyi.
Jangkrik bernyanyi. Kodok bersahutan di sawah yang masih tergenang air. Hujan sore tadi meninggalkan bau tanah yang basah. Edi duduk bersama Ferdi, sahabatnya sejak kecil.
“Apa yang kamu katakan tadi benar,” kata Ferdi pelan. “Aku mendukungmu, dan aku sependapat denganmu.”
“Kalau mendukung, kenapa diam?” tanya Edi.
Ferdi tersenyum pahit. “Karena kita tidak sefrekuensi dengan mereka. Kalau tidak sefrekuensi, perdebatan hanya membuang-buang tenaga saja.”
Edi menggeleng. “Justru di situlah perjuangan dimulai.”
Ferdi terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada ragu, “Ed, kamu tahu aku mau melamar Dek Rose, putri Ustadz Syams. Kalau aku ikut berdebat, bagaimana nasib lamaran itu?”
Edi menatap sahabatnya. Ia tahu, perjuangan tak hanya diuji oleh kekuasaan di luar diri, tapi juga oleh ketakutan di dalam hati.
“Aku paham,” katanya pelan. “Setiap orang punya medan juangnya sendiri-sendiri.”
Dari kejauhan, terdengar suara perempuan. “Mas Edi, ayo pulang. Lampu padam, Ini juga malam Jumat loh . . .Aku takut.” katanya.
Ferdi tersenyum. “Itu kode,” katanya sambil tertawa kecil.
“Makanya cepat nikah juga kamu, biar juga merasakan.” kata Edi pada sahabatnya itu.
"Lah makanya ini usaha hihihi..." Timpal Ferdi menyahutinya.
Gardu itu akhirnya kosong. Sunyi menyimpan gema perdebatan yang belum selesai. Di Pulau Salidi, dua sikap terus bertarung: pasrah yang dibungkus syukur, dan perlawanan yang lahir dari kesadaran.
Langit tetap hitam. Angin mengundang hujan. Di balik selimut tipis, warga Salidi tidur bersama mimpi-mimpi yang belum sempat menjadi kenyataan. (*)
Gayam, Februari 2026
Komentar
Posting Komentar