Langsung ke konten utama

PENGHARGAAN PRESTASI AKADEMIK DARI LAZISMU GAYAM DAN PARA JUARA CLASS MEETING

 

Pemberian Penghargaan dari Kepala SMAM 4 Gayam Bersama Lazismu Gayam (doc. Lailatul Maulidah Riska)

SMAM4GAYAM.CO - Kepala SMA Muhammadiyah 4 Gayam berkolaborasi dengan Lazismu Gayam dalam rangka pemberian penghargaan kepada para siswa-siswi peraih prestasi akademik dan non akademik SMA Muhammadiyah 4 Gayam, pada hari Senin (26/01/2026).

Pemberian penghargaan prestasi akademik Kelas X, Kelas XI, dan Kelas XII diberikan secara langsung oleh pengurus Lazismu Gayam di depan para siswa-siswi yang sedang melaksanakan apel hari Senin. Juga pemberian hadiah Class Meeting diberikan langsung oleh Bapak Buhairi Irawan, S.Pd., selaku Kepala SMA Muhammadiyah 4 Gayam.

Tujuan utama pemberian apresiasi akademik di sekolah adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, membangun rasa percaya diri, serta memberikan pengakuan atas usaha dan prestasi yang telah dicapai. Apresiasi ini juga bertujuan mendorong siswa untuk berprestasi lebih tinggi, membentuk karakter positif, dan menciptakan lingkungan belajar yang suportif.

Secara rinci, tujuan pemberian apresiasi akademik di sekolah meliputi:

Meningkatkan Motivasi Belajar: Apresiasi berupa pujian, hadiah, atau piagam membuat siswa merasa dihargai, sehingga lebih bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran.

Membangun Kepercayaan Diri: Pengakuan atas prestasi, sekecil apa pun, membantu siswa merasa lebih percaya diri dan tidak takut menghadapi tantangan akademik.

Mendorong Perilaku dan Prestasi Positif: Memberikan penghargaan atas kerja keras dan hasil akademik mendorong siswa untuk konsisten mempertahankan atau meningkatkan kinerjanya.

Merangsang Kreativitas dan Inovasi: Siswa yang diapresiasi cenderung lebih berani mencoba hal baru dan berpikir kreatif.

Mengurangi Stres Akademik: Apresiasi membantu meredakan kecemasan siswa terkait tekanan ujian dan tugas, serta memberikan rasa aman.

Meningkatkan Reputasi Siswa dan Sekolah: Apresiasi atas prestasi membawa nama baik sekolah dan memberikan kebanggaan bagi siswa.

Bentuk apresiasi dapat berupa lisan (pujian), tulisan (sertifikat), maupun penghargaan fisik (piala/hadiah), yang sebaiknya diberikan secara adil dan transparan. (*)









Penulis Abu Hasna


Komentar

  1. Terima kasih atas penulisan artikel yang insightful dan mudah dipahami. Saya merasa terbantu dan tertarik untuk ikut memberikan komentar. Semoga ke depan semakin banyak topik menarik yang dibahas. jasa website profesional

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAJIAN RAMADHAN PART 2 : RAMADHAN SYAHRUL QURAN

Foto Bersama Peserta Putra Kajian Ramadhan Dengan Muballigh (Abu Hasna/SMAMUGA) SMAMUGA - SMA Muhammadiyah 4 Gayam mengelar Kajian Ramadhan di hari kedua pada Jumat (7/3/2025), yang menjadi muballigh kali ini adalah Ustadz Subdiyanto di Musholla Al-Ghuroba' SMA Muhammadiyah 4 Gayam, Kepulauan Sapudi, Kabupaten Sumenep. Kajian Ramadhan kali ini mengangkat tema "Ramadhan Syahrul Quran". Kegiatan dilaksanakan mulai dari pukul 07.30 - 10.00 WIB. Diawali dengan pelaksanaan Shalat Sunnah Dhuha, Mengaji Surah Al-Kahfi, dan dilanjutkan dengan Kajian Ramadhan yang diisi oleh Ustadz Subdiyanto. Beliau adalah salah satu pengajar Al-Quran di Musholla Darul Arqom, Desa Gayam, Kepulauan Sapudi, Kabupaten Sumenep. Ustadz Subdiyanto menuturkan bahwa; "Inilah waktu yang kita nanti-natikan selama setahun lamanya. Ada perasaan kangen, rindu kepada Ramadhan. Biasanya orang rindu itu tidak ingin berpisah. Ketika ia bertemu, ia akan selalu merasa enak, enjoy, senang dan bahagia. Itulah ...

DI BAWAH GARDU HARAPAN, OLEH : FERI JATMIKO

  Ilustrasi Di Bawah Gardu Harapan Pulau Salidi (dok. Abu Hasna) DI BAWAH GARDU HARAPAN Oleh : Feri Jatmiko Harapan demi harapan tumbuh di langit Pulau Salidi, namun harapan itu kerap patah sebelum sempat menjelma. Di laut, alat transportasi ibarat ombak yang menjadi soal; di darat, gelap menjadi kebiasaan. Segala problematika menyatu, menjelma tebing tinggi yang curam dan menjadi tempat manusia belajar pasrah sebelum sempat melawan. Malam itu di pulau Salidi selalu datang dengan cara yang sama: gelap. Pemadaman listrik bukan lagi peristiwa, melainkan tradisi. Di bawah cahaya damar dan lilin, warga berkumpul, menyeruput kopi, membicarakan nasib yang seolah tak pernah berubah. “Salah satu mesin PLN mati lagi katanya,” ujar seorang lelaki paruh baya. “Kita sudah mengeluh sejak dulu, tapi tetap saja begini.” Di rumah bambu yang lain, di bawah nyala dhamar talpek, suara-suara serupa terdengar. Mereka membicarakan kapal feri yang kian uzur, mesin yang sering mogok, dan badan kapal yang ...