Gambar Ilustrasi Menatap Cermin (doc. Abu Hasna)
CERMIN
Oleh : Feri Jatmiiko
Mungkin engkau enggan mendengar suara yang lahir dari rasa
Mereka-mereka pun menutup telinga dari getar kata yang mengandung cahaya
Atau barangkali engkau dan mereka sama saja menutup mata hati karena takut melihat diri sendiri.
Namun aku tidak sedang berbicara kepadamu juga tidak bicara pada mereka
Aku sedang berdiri di hadapan diriku sendiri
Di dalam diriku ada aku lain yang kadang menjerit tanpa suara
Menggelinjang dalam gelap
Mencari seberkas cahaya yang tak kunjung disapa
Ia berjalan di lorong sepi hanya untuk mendengar langkahnya sendiri
Ia memanggil dengan nama yang suci, namun gema itu tidak terpantul oleh cermin yang penuh debu dan karat.
Padahal kegelisahan bukanlah musuh
Ia adalah uap dari kerinduan pada terang
Ia adalah tanda bahwa jiwa belum selesai
Pernahkah lidah merasakan gula dan garam
dalam warna yang sama?
Jika itu terjadi, maka engkau sedang berdiri di ambang kesadaran
Tempat manis dan asin bersatu dalam satu rahasia.
Aku tidak bersuara untukmu
Tidak pula untuk mereka
Aku bersuara untuk riuh hujan waktu
Mengingatkan bahwa hidup terus berlalu
Kita sering terpukau oleh tarian
Oleh lekuk tubuh dan gerak yang memesona
Namun mengapa wajah kehilangan senyum?
Bukankah hati adalah jendela dan senyum adalah bahasa paling jujur yang tak memerlukan kata!!!
Senyumlah. . .
Bukan karena dunia menatapmu
Tetapi karena Langit mengenalmu
Senyum yang lahir dari bilik hati
tidak pernah sia-sia
Ia mengetuk pintu yang tak terlihat dan cahaya akan menjawabnya
Pada akhirnya suara akan menemukan pintunya
Cahaya akan menyebar dalam wajah dan perbuatan
Karena perbuatan adalah cermin dari rahasia yang disimpan jiwa...!
Gayam, 17 Februari 2026
Komentar
Posting Komentar