Ilustrasi Gambar Manusia Karatan (doc. Abu Hasna)
Manusia Karatan
Oleh : Feri Jatmiko
Kejujuran dan keterbukaan seringkali termatikan, gagasan dan pencerahan seringkali menjumpai tembok tinggi dan juga bebal. Narasi kecintaan narasi ketulusan hadir bersama pahitnya jamu yang seringkali dibenci, sedangkan kebusukan yang berbalut gula seringkali disenangi padahal justru itu yang mematikan nurani, harkat, dan martabat diri.
Manusia harus belajar dan mengenal siklus akibat, dibalik sesuatu yang tampak. Manusia harus mencoba bertelanjang kejujuran dan membiarkan dadanya terbuka agar inderawinya peka terhadap hikmah fenomena. Rasa dalam jiwa harus kembali kita panggil dan dibangkitkan, barangkali selama ini ia telah mati bersama keruhnya kotoran yang membungkus diri, sehingga akal sehat kita tersumbat, yang menyebabkan hati serta tindakan kita berjalan dengan kebijakan yang sekarat sehingga menjadikan kemanusiaan kita tiada karena diri kita sebagai manusia pupus dan karatan.
Berbenahlah dengan merenung, kembali memasuki diri guna menjumpai cahaya suci. Basuhlah lantai jiwa kita, bukalah pintu dan jendela kamar hati kita, sebab langit malam cahaya bintang dan bulan berbinar dengan indahnya. Rumah yang gelap bukan karena tiadanya cahaya tapi karena kurangnya membuka fentilasinya atau keruh dan kotornya cermin di dinding-dindingnya.
Gayam, Oktober 2025

Komentar
Posting Komentar